Mencermati perbedaan karakter fotografi Indonesia dan luar negeri
Fotografi di Indonesia telah mengalami peningkatan semenjak tahun – tahun sebelumnya. Fotografi yang dahulu menjadi barang mewah, sekarang menjadi hal yang “biasa” saja. Lihat saja sekarang hampir setiap handphone mempunyai kamera. Dan tidak aneh kalau melihat anak SMP sudah bawa – bawa DSLR
.
Semakin banyaknya fotografer bermunculan dengan karakter foto yang berbeda – beda membuat saya ingin lebih mengetahui lebih jauh. Dan setelah saya perhatikan, karakter foto yang dihasilkan di negeri kita ini cenderung ‘ceria’, kalau tidak mau dibilang ‘dangdut’
. Orang – orang kita lebih menyukai warna yang saturated (baca:ngejreng!) dan berkontras tinggi. Tetapi kadang – kadang kalau saya perhatikan kebanyakan malah ‘oversaturated’.

Fotografer.net - portal fotografi Indonesia
Dan setelah saya perhatikan karakter foto di luar negeri. Kebanyakan dari mereka lebih menyukai yang tidak terlalu colorfol, cenderung monotone, dan bahkan banyak sekali black and white. Mereka lebih suka bermain dengan ‘mood’ foto. Foto yang dihasilkan cenderung undersaturated dan berkontras rendah.

1x.com
Untuk sampel saya mengambil Fotografer.net untuk Indonesia dan 1x.com untuk luar negeri. Foto yang diambil adalah jenis landscape karena terlihat betul perbedaan karakter warnanya.
Mungkin hal ini hanya selera individu, tapi ini dapat menjadi tolak ukur kita dalam membuat suatu karya foto. Foto yang sangat disukai di sini mungkin tidak terlalu menarik di luar sana.
Mudah – mudahan hal ini bisa menjadi pembelajaran kita agar bisa berkarya lebih baik lagi.
hyaaaa… aliran luar ama aliran dalam beda yach…
tapi alam luar tuh keren.. bagus bagus..
tapi bagi orang indonesia.. kita harus bersyukur.. alam di indonesia tuh bisa bagus kalo dapet moment yang tepat..
gak usah jauh jauh dech kalo mau foto landscape..
di deket kampus juga bisa.. hehehe tepatnya di Sukabirus.. tunggu ajah langitnya berpihak.. tar juga bakal jadi maha karya yang indah..
tapi inget.. hasil jepretan kamera tidak akan seindah aslinya.. hahaha
karena alam merupakan lukisan mahakarya dari sang pencipta.. Allah AWT..
jaa ne.. ^ ^
keterbatasan alat dan media mungkin bisa jadi faktornya
em, saya setuju. mungkin karena orang indonesia sudah terlalu banyak menderita sehingga mereka ingin menampilkan sesuatu yang colorfull. sehingga lebih membuat bahagia
saya menyebutnya Wow Photography..
orang Indonesia demen sekali yang wow-wow. Warna digenjreng , orang ketabrak , efek yg aneh dsb hehehe.. apa mgkn itu karena jaminan mutu bisa masuk FPE ??
masing2 orang pny style sendiri2 sih.. saya prefer utk dikit aja touching photo2 saya.
hahaha…..iya juga sih, foto saya yang FPE juga kebanyakan digoreng…
dimasukin ke 1x.com , direject semua..
alesannya : too much editing….no impact..blah blah..
uhm informasinya bagus nih buat referensi
semangat pak ketua
jangan lupa tambahin link blogku ya wir
hmm.. foto2 luar juga lebih memperhatikan design element seperti line, space, tone, dkk…
Hmm bener banget wir, klo di Indo emang selalu dengan warna dan sebagainya n diluar cenderung monotone warnanya, makanya kan gw lebih suka main b/w karena mainin mood dalam foto itu yang bikin gw tertarik banget.
“Dunia Tanpa Warna”
Tapi mas Ken Rockwell justru suka warna genjreng..
hha.
iya juga kali yah..
indonesia kalo ngasih pewarnaan tuh terlalu ‘menor’.
maap, gw sih ga suka dua situs yang lo contohin itu wir, terlepas dari warna, itu hanya realita yang di tangkap fotografer dan klo pada situasinya langi biru yah fotolah dengan biru (klo pake film color) yah klo mendung yah foto saja. karena yang paling penting adalah cerita di balik foto tersebut . conten!
@usenk: Hehe..benar sekali mas, tapi yang saya contohkan di atas memang masalah warna yang agak – agak berlebihan. Tentu saja ini adalah selera.
Tapi yang saya tekankan disini adalah pada saat post processing (lupa disebutkan di atas), terlalu over. Bukan pada saat pemotretan. Saya setuju sekali content dari foto sangatlah penting, tapi tampilan visual tidak kalah penting lho.
Terima kasih atas komennya.
“warnanya masih bisa diangkat lagi nih bos”
That’s why I was quit from “indonesian photographer network”… hahahahaha…
gw malah lebih suka tone yang “burem” ato “desaturated” soalnya… hahahaha…
Hmmm … pengamatan yang cukup jeli. MEnarik untuk dijadikan riset serius.
Terima kasih sudah mampir dan berkomentar di JAGAT FOTOGRAFI, Wira.
TUlisan-tulisan kamu di sini enak dibaca dan bermanfaat.
Salam
iyah, entah bagaimana bisa nyasar ke blog kang Eki. thx juga udah mampir kemari.
klo menurut saya ish gak ada salahnya orang suka tone dengan warna norak, atau tone dengan warna biasa2 saja. awal kenal fotografi saya belajar dari FN gimana nyari komposisi objek yg tepat, pewarnaan dll. walopun sering dikritik warnanya kurang sip … ato, ini bisa diolah lagi nih, tapi itu saya anggap sebagai masukan. namanya juga baru belajar … dikritik orang, memang harus terima
. tapi sekarang masa2 belajar di fn sudah terlupakan … karena sekarang saya lebih mementingkan konsep ‘asal jepret’ … menghargai setiap moment yg ada, hehe
.
so … fotografi dalam dan luar negeri sama baiknya dan sama hebatnya, tinggal kembali pada diri kita sendiri. klo sekarang orang kritik foto saya … saya cuma bilang, yah … itulah kemampuan yg saya miliki. jepret .. upload
. makasih yah udah mampir
hehe, iya terserah kita mau dibilang kayak apa yang penting karya sendiri ya mas. Makasih udah mampir juga
saya sebenarnya suka dengan tone yang ngejreng, tapi gak pernah bisa ngeditnya, hahaha