Mencermati perbedaan karakter fotografi Indonesia dan luar negeri

Notes : Artikel ini pindah alamat ke http://www.wiranurmansyah.com/mencermati-perbedaan-karakter-fotografi-indonesia-dan-luar-negeri/ .  Terima kasih atas kunjungannya.

18 thoughts on “Mencermati perbedaan karakter fotografi Indonesia dan luar negeri

  1. hyaaaa… aliran luar ama aliran dalam beda yach…

    tapi alam luar tuh keren.. bagus bagus..

    tapi bagi orang indonesia.. kita harus bersyukur.. alam di indonesia tuh bisa bagus kalo dapet moment yang tepat..

    gak usah jauh jauh dech kalo mau foto landscape..

    di deket kampus juga bisa.. hehehe tepatnya di Sukabirus.. tunggu ajah langitnya berpihak.. tar juga bakal jadi maha karya yang indah..

    tapi inget.. hasil jepretan kamera tidak akan seindah aslinya.. hahaha

    karena alam merupakan lukisan mahakarya dari sang pencipta.. Allah AWT..

    jaa ne.. ^ ^

  2. em, saya setuju. mungkin karena orang indonesia sudah terlalu banyak menderita sehingga mereka ingin menampilkan sesuatu yang colorfull. sehingga lebih membuat bahagia

  3. saya menyebutnya Wow Photography..
    orang Indonesia demen sekali yang wow-wow. Warna digenjreng , orang ketabrak , efek yg aneh dsb hehehe.. apa mgkn itu karena jaminan mutu bisa masuk FPE ??

    masing2 orang pny style sendiri2 sih.. saya prefer utk dikit aja touching photo2 saya.

  4. Hmm bener banget wir, klo di Indo emang selalu dengan warna dan sebagainya n diluar cenderung monotone warnanya, makanya kan gw lebih suka main b/w karena mainin mood dalam foto itu yang bikin gw tertarik banget.
    “Dunia Tanpa Warna”

  5. maap, gw sih ga suka dua situs yang lo contohin itu wir, terlepas dari warna, itu hanya realita yang di tangkap fotografer dan klo pada situasinya langi biru yah fotolah dengan biru (klo pake film color) yah klo mendung yah foto saja. karena yang paling penting adalah cerita di balik foto tersebut . conten!

  6. @usenk: Hehe..benar sekali mas, tapi yang saya contohkan di atas memang masalah warna yang agak – agak berlebihan. Tentu saja ini adalah selera.
    Tapi yang saya tekankan disini adalah pada saat post processing (lupa disebutkan di atas), terlalu over. Bukan pada saat pemotretan. Saya setuju sekali content dari foto sangatlah penting, tapi tampilan visual tidak kalah penting lho.
    Terima kasih atas komennya.

  7. “warnanya masih bisa diangkat lagi nih bos”

    That’s why I was quit from “indonesian photographer network”… hahahahaha…

    gw malah lebih suka tone yang “burem” ato “desaturated” soalnya… hahahaha…

  8. Hmmm … pengamatan yang cukup jeli. MEnarik untuk dijadikan riset serius.

    Terima kasih sudah mampir dan berkomentar di JAGAT FOTOGRAFI, Wira.

    TUlisan-tulisan kamu di sini enak dibaca dan bermanfaat.

    Salam

  9. klo menurut saya ish gak ada salahnya orang suka tone dengan warna norak, atau tone dengan warna biasa2 saja. awal kenal fotografi saya belajar dari FN gimana nyari komposisi objek yg tepat, pewarnaan dll. walopun sering dikritik warnanya kurang sip … ato, ini bisa diolah lagi nih, tapi itu saya anggap sebagai masukan. namanya juga baru belajar … dikritik orang, memang harus terima🙂. tapi sekarang masa2 belajar di fn sudah terlupakan … karena sekarang saya lebih mementingkan konsep ‘asal jepret’ … menghargai setiap moment yg ada, hehe🙂.

    so … fotografi dalam dan luar negeri sama baiknya dan sama hebatnya, tinggal kembali pada diri kita sendiri. klo sekarang orang kritik foto saya … saya cuma bilang, yah … itulah kemampuan yg saya miliki. jepret .. upload🙂. makasih yah udah mampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s