Gowes anti panas : obat khusus demam bumi!

bikers

bikers

Mendengar kata ‘Gowes’ pasti sudah pada tahu kan ? Ya, gowes berarti nggenjot alias naik sepeda. Gowes anti panas merupakan sebuah event funbike yang diadakan oleh komunitas bike to work. Hampir semua komunitas sepeda di Bandung turut memeriahkan acara ini. Dimulai jam 07.oo pagi, saya agak sedikit telat gara – gara teman bikers dari IT Telkom pada ngaret. Sebenernya saya capek banget karena malemnya abis motret dies natalis di kampus sampe jam 01.30, tapi keinginan bersepeda rame – rame menghilangkan rasa cape dan malas itu. Tapi pas nyampe di tempat janjian, saya datang paling pertama… 🙂

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pada berdatangan. Pukul menunjukan 06.45, sudah dipastikan bakal telat nih. Continue reading

Hunting plus Hiking ke Gunung Puntang

Terasa lelah fisik dan mental, tetapi rasa senang dan puas turut menemani. Hari minggu (26/4), bersama teman – teman dari photoST mencoba mendaki gunung puntang yang terletak di desa Cimaung, Banjaran, kabupaten Bandung. Gunung Puntang terletak pada pegunungan malabar, di ketinggian 1290 m dpl. Gunung puntang merupakan wisata alternatif di Bandung selatan jika anda bosan ke kawah putih maupun situ patengan di ciwidey.

curug siliwangi

curug siliwangi- ©Adityo Hardo

Tempat ini cukup bersejarah, terdapat pemancar yang memungkinkan komunikasi antara bandung – belanda yang berjarak kurang lebih 12.000 km! Continue reading

Teknik dalam fotografi landscape

Notes : Blog ini pindah alamat ke http://wiranurmansyah.com .  Terima kasih atas kunjungannya.

Masalah teknis sebetulnya tidak terlalu penting, tapi tetap harus dikuasai agar pada saat memotret kita tidak terganggu oleh masalah – masalah basic seperti shutter speed, iso, aperture, dan lain sebagainya. Mungkin teman – teman sudah tahu akan hal ini, tapi kita akan lihat pengaplikasinya dalam fotografi landscape. Sebelumnya, anda juga harus mengetahui tentang shutter speed, iso, dan aperture. Seperti yang kita ketahui, dalam fotografi landscape, kita tidak bisa mengatur cahaya yang ada; semuanya kehendak Tuhan. Tugas kita adalah mengatur kamera agar apa yang kita lihat bisa kita terjemahkan ke dalam frame kita ( hasil visualisasi awal ).

Metering

Dreamland beach

Dreamland beach

Metering juga harus dikuasai dengan baik. Pelajarilah fungsi masing-masing metering pada kamera, karena setiap kamera mempunyai karakteristik metering yang berbede. Tips : untuk Nikon, gunakanlah matrix metering karena hasilnya 90 % benar. Paling kita hanya perlu mengkompensasi exposure ke nilai plus(+) jika scene terlalu banyak terang, atau ke nilai (-) jika terlalu banyak bagian gelap. Tapi ini hanya untuk mendapatkan exposure yang “benar” dan ini terserah dari teman – teman sendiri, apakah ingin dibuat lebih terang atau lebih gelap. Dan berbicara masalah outdoor photography, otomatis kita berada dalam kondisi pemotretan dengan dynamic range yang tinggi. Mata kita mungkin masih bisa menangkapnya karena mata merupakan sensor terhebat yang diciptakan Tuhan. Sedangkan sensor kamera tidak akan bisa. Ini bisa dikompensansi dengan filter Gradual Neutral Density. Tahukan teman – teman bahwa penggunaan filter justru untuk mendapatkan efek yang natural ? bukan sebaliknya.

Exposure mode

Dalam kamera, banyak sekali mode exposure yang dapat dipilih. Pada dasarnya hanya ada 4 buah. Program, Aperture priority, Shutter priority, Manual. Mode – mode tambahan seperti portrait, landscape, auto, night portrait, dan lain-lain sebaiknya tidak usah dipakai. Continue reading

Bagaimana “melihat” dalam fotografi landscape?

Lupakan masalah teknis

Pertama – tama lupakan masalah teknis terlebih dahulu. Di postingan sebelumnya ada sebuah pernyataan: “Langkah awal untuk mendalami fotografi landscape adalah menentukan secara secara tepat karakter dari landscape itu sendiri”. Dan karakter paling penting yang harus dipelajari adalah cahaya. Dari mana arah datangnya, seberapa banyak cahaya yang jatuh, bagaimana warna yang muncul..dan lain sebagainya. Proses ini dinamakan previsualisasi, proses dimana kita menentukan perpaduan dari segala elemen yang tesedia. Ingatlah bahwa foto landscape yang baik adalah foto yang mengambil sebagian untuk mewakili seluruh bagian yang ada. Proses previsualisasi juga dapat dibilang sebagai konversi objektivitas lensa kamera menjadi subjektivitas mata sang fotografer.

Tidak perlu ke tempat yang “wow”

D

dapet di belakang kosan 😀

Poin yang penting lainnya adalah foto landscape yang bagus tidak harus di tempat yang eksotis. Kita harus peka terhadap keadaan alam sekitar kita. Sadarlah bahwa tempat manapun menyajikan kesempatan foto yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengolahnya (bukan di photoshop lho..) dan menyajikannya. Justru dengan tempat yang kurang bagus, mata kita dilatih untuk lebih peka. Mulai dari cara kita melihat cahaya, memilih angle, menentukan focal length yang tepat, memilih elemen yang ingin kita masukan, ataupun menyingkirkan elemen yang mungkin menggagu POI tapi tetap bisa mempertahankan POI itu sendiri. Jika kita sudah terbiasa akan hal ini, motret dimanapun pasti cihuyy, apalagi kalau tempatnya udah keren. cingcay dah 🙂

p.s : Ada yang mau hunting ke cikoneng ?

next : Teknik yang harus dikuasi dalam fotografi landscape

In my mind’s eye, I visualize how a particular… sight and feeling will appear on a print. If it excites me, there is a good chance it will make a good photograph. It is an intuitive sense, an ability that comes from a lot of practice. – Ansel Adams